Contoh kasus iklan Telkomsel dan XL
Salah satu contoh problem etika bisnis yang
marak adalah perang provider celullar antara XL dan Telkomsel. Berkali-kali
kita melihat iklan-iklan kartu XL dan kartu as/simpati (Telkomsel) saling
menjatuhkan dengan cara saling memurahkan tarif sendiri. Kini perang 2 kartu
yang sudah ternama ini kian meruncing dan langsung tak tanggung-tanggung
menyindir satu sama lain secara vulgar. Bintang iklan yang jadi kontroversi itu
adalah SULE, pelawak yang sekarang sedang naik daun. Awalnya Sule adalah
bintang iklan XL. Dengan kurun waktu yang tidak lama TELKOMSEL dengan
meluncurkan iklan kartu AS. Kartu AS meluncurkan iklan baru dengan bintang
sule. Dalam iklan tersebut, sule menyatakan kepada pers bahwa dia sudah tobat.
Sule sekarang memakai kartu AS yang katanya murahnya dari awal, jujur. Perang
iklan antar operator sebenarnya sudah lama terjadi. Namun pada perang iklan
tersebut, tergolong parah. Biasanya, tidak ada bintang iklan yang pindah ke
produk kompetitor selama jangka waktu kurang dari 6 bulan. Namun pada kasus
ini, saat penayangan iklan XL masih diputar di Televisi, sudah ada iklan lain
yang “menjatuhkan” iklan lain dengan menggunakan bintang iklan yang sama.
Analisis
Dalam kasus ini, kedua provider telah
melanggar peraturan-peraturan dan prinsip-prinsip dalam Perundang-undangan.
Dimana dalam salah satu prinsip etika yang diatur di dalam EPI, terdapat sebuah
prinsip bahwa “Iklan tidak boleh merendahkan produk pesaing secara langsung
maupun tidak langsung.” Pelanggaran yang dilakukan kedua provider ini tentu
akan membawa dampak yang buruk bagi perkembangan ekonomi, bukan hanya pada
ekonomi tetapi juga bagaimana pendapat masyarakat yang melihat dan menilai
kedua provider ini secara moral dan melanggar hukum dengan saling bersaing
dengan cara yang tidak sehat. Kedua kompetitor ini harusnya professional dalam
menjalankan bisnis, bukan hanya untuk mencari keuntungan dari segi ekonomi,
tetapi harus juga menjaga etika dan moralnya dimasyarakat yang menjadi konsumen
kedua perusahaan tersebut serta harus mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat.
KESIMPULAN
Kesimpulan
Pada kasus perang provider
antara Telkomsel dan XL membuktikan bahwa telah terjadi pelanggaran dalam
proses promosi serta melanggar hak-hak konsumen mengenai hak untuk mendapat
pembinaan dan pendidikan konsumen. Kedua provider juga telah melanggar prinsip
etika yang diatur dalam undang-undang Etika Pariwara Indonesia yang berisi
iklan tidak boleh merendahkan produk pesaing secara langsung maupun tidak
langsung.
Peraturan mengenai periklanan
telah diatur sedemikian rupa agar produsen dapat menghargai hak-hak konsumen.
Lemahnya pengawasan membuat iklan tersebut beredar di masyarakat. Dalam hal ini
konsumen dipaksa untuk memilih produk dengan cara tidak etis. Kedua provider
mengesampingkan penerapan etika dalam berbisnis.
Saran
Dengan masih banyaknya
pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku bisnis periklanan maka Etika Pariwara
Indonesia harus ditegakkan. Hal ini bertujuan untuk menjaga budaya bangsa dan
kepentingan masyarakat luas seiring maraknya sikap individualis dan materialis
sebagai dampak dari modernisasi. Kesadaran menerapkan tatanan etika dengan
mengacu pada Etika Pariwara Indonesia adalah wujud pemberdayaan pelaku dan
industri periklanan sendiri untuk ikut melindungi budaya bangsa (Habib,
2006).
Etika Pariwara Indonesia
harus menjadi pedoman utama bagi para pelaku dalam industri periklanan,
sehingga hasil kerja mereka bisa sesuai dengan nilai dan norma yang dianut
masyarakat. Sebagai pendukungnya, partisipasi dari berbagai pihak juga sangat
diperlukan. Produsen harus memberikan data dan informasi yang benar tentang
produknya kepada biro iklan. Sedangkan biro iklan menyajikan data dan informasi
tersebut melalui kreativitasnya dengan memperhatikan situasi dan kondisi
masyarakat. Media massa berperan menyaring iklan yang akan ditayangkan. Selain
itu, sejumlah asosiasi pendukung Etika Pariwara Indonesia, juga berperan
dalam memberi masukan dan kritikan terhadap proses penegakan Etika Pariwara
Indonesia. Namun yang terpenting adalah peran konsumen sendiri. Sebab, pada
dasarnya iklan hanya memberi preferensi dalam menentukan keputusan pembelian.
Sumber dari :
http://www.marketing.co.id/simpati-vs-xl-adu-kuat-berebut-pelanggan-1/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar